Kamis, 26 Juli 2012

12. Pandangan Umum RAPBDP 2006


PANDANGAN UMUM ANGGOTA FRAKSI
DPRD KABUPATEN SOLOK
TERHADAP
NOTA BUPATI SOLOK TENTANG NOTA KEUANGAN
PENGANTAR RANCANGAN PERATURAN DAERAH
PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH [RAPBDP]
KABUPATEN SOLOK TAHUN 2006

Dibacakan oleh Drs. MUKHLIS DENROS
FRAKSI KEADILAN SEJAHTERA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang saya hormati,
- Saudara Bupati dan Wakil Bupati Solok
- Saudara Ketua, Wakil Ketua dan Anggota DPRD Kabupaten Solok
- Saudara Muspida, Ketua Pengadilan Negeri Koto Baru
dan Ketua Pengadilan Agama Koto Baru,
- Saudara Sekda dan Jajaran Eksekutif
- Saudara Pimpinan Ormas, Orpol dan Para Wartawan
- Hadirin sidang dewan yang berbahagia.


Pertama sekali kita sanjungkan puja dan puji kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita karunia dan Nikmat-Nya kepada kita sehingga dalam menjalankan tugas sehari-hari tetap dalam bimbingan-Nya, shawalat dan salam kita sampaikan kepada guru teragung, rasul mulia yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah mengorbankan seluruh potensi hidupnya untuk memperbaiki kehidupan manusia agar selamat di dunia hingga akherat.

Terima kasih kami sampaikan kepada saudara pimpinan yang telah memberikan waktu kepada saya untuk menyampaikan pandangan umum anggota fraksi yang merupakan hak semua anggota dewan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang mewakilinya serta sarana untuk memberikan masukan berupa saran dan kritik kepada pemerintah daerah yang merupakan pelayan masyarakat untuk kesejahteraan bersama.

Hadirin sidang dewan yang saya hormati,

Hari rabu tanggal 6 September 2006 kita diajak untuk menanggapi Pidato Bupati Solok tentang Nota Keuangan tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2006 yang merupakan agenda penting untuk melanjutkan program-program pembangunan Kabupaten Solok akhir tahun 2006 ini walaupun masih banyak agenda proyek pembangunan yang sudah dianggarkan pada APBD awal tahun ini yang belum terealisir sepenuhnya tentu dengan berbagai argumentasi yang kadangkala argumentasi itu tidak dapat diterima alasannya, walaupun masyarakat sudah lama menantikan jalan di nagarinya diperbaiki, sekolah reot yang dipugar lagi dan berbagai harapan yang belum nampak ujudnya.

Hadirin sidang dewan yang kami hormati,
Sudah menjadi berita umum dimana saja khususnya Indonesia dilanda berbagai bencana yang silih berganti bahkan belum lagi berganti sudah diawali dengan bencana berikutnya, seringkali kita baru menyadari betapa bencana itu sangat berkaitan erat dengan tingkah laku kita. Keterlenaan rutinitas aktivitas yang selama ini kita anggap benar, lalu tiba-tiba mengenyakkan. Sehingga banyak manusia tidak begitu saja bias menerima takdir akan bencana yang menimpanya. Karena bencana apapun bentuknya akan selalu beriringan dengan kepedihan, penyesalan dan ratapan tangis kekesalan. Agar kita tidak terpuruk dalam kepedihan yang sangat atas bencana dan mampu memetik hikmah pelajaran besar dalam kehidupan kita itu, maka mari kita bercermin pada pertanyaan-pertanyaan dalam hati nurani diri kita, karena boleh jadi bencana orang lain, hakekat sesungguhnya adalah peringatan bagi kita.

Ada lima kaca diri pada bencana;
Pertama, beningkan hati bahwa setiap bencana adalah takdir Allah.
Ketetapan Allah terhadap makhluk-Nya adalah sebuah kepastian, termasuk bencana,”Tidak ada bencana yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab lauh al mahfuzh sebelum Kami menciptakannya”[Al Hadid; 22].

Menjadi manusia yang tegar menerima bencana sebagai takdir Allah memang tidak mudah. Tidak saja karena factor cara kita menerima bencana, tapi juga karena pengaruh lingkungan kita.
Disinilah saatnya kita membuktikan seberapa besar kepasrahan kita kepada yang menguasai atas seluruh alam semesta. Seberapa longgarnya hati kita menghadapi segala kepedihan yang menggelisahkan dan menyakitkan ini.

Kedua, inikah saatnya kita bercermin?
Manakala perbuatan – perbuatan maksiat telah terhimpun di dalam kalbu, maka akan menjadikannya tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak mempunyai kesadaran, tidak mempunyai pemahaman dan tidak punya pengertian. Sehingga kalbu itu laksana setumpuk daging yang mempunyai denyut karena aliran darah, tapi tidak menyadarkan, dan itulah buah kesombongan.
Dalam bencana ini mengajarkan kita begitu banyak kelemahan diri kita. Lemah fisik, lemah ilmu, lemah pengetahuan, lemah antisipasi ataupun lemah deteksi, sehingga patutkah jika terus menyombongkan diri ? “Cobaan akan senantiasa menimpa diri orang mukmin, baik berkenaan dengan dirinya, harta bendanya, maupun anak-anaknya sampai dia bersua dengan Allah, sedang ia tidak mempunyai dosa lagi” [HR.Ahmad, Turmuzi dan Al Hakim].

Ketiga, sabarkah kita dalam kesempitan dan penderitaan?
Kesaabaran adalah jawaban dalam menjalani hari-hari yang penuh cobaan dan penderitaan. Kesabaranlah yang akan mengubah bencana menjadi berkah, rahmat dan hidayah. Tapi ketika kesabaran sudah terabaikan, maka bencana penderitaan yang lebih besar justru akan datang dan menimpa. Bencana itu dating tiba-tiba dan tidak disangka.


Keempat, adakah ukhuwah selalu kita jaga ?
Banyak masyarakat yang mengeluhkan tentang kurangnya realisasi ukhuwah di tengah ummat ini, rasa saling menanggung berat entengnya tetangga sudah mulai kurang. Dan ini barangkali sebab musabab terjadi. Kalau dalam kesulitan saja tidak mau tahu dengan kondisi teman dan kerabat juga tetangganya, apalagi dalam kondisi bahagia.
Hilangnya sikap ukhuwah, ini merupakan cerminan dari gagalnya para pejabat, ulama dan politikus dalam memberikan teladan pada masyarakat. Hilangnya sikap itu tak urung menjadikan bencana terus akan terjadi, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari kesalahan dirimu sendiri…” [An Nisa’ 4;79].

Kelima, enggankah kita menjadikan doa sebagai sumber kekuatan ?
Kegamangan, keresahan dan kesedihan serta ratapan adalah sesuatu yang selalu terjadi setiap kali bencana baru muncul. Dan tak ada satupun yang berani memberikan sebuah kepastian dari akhir bencana yang menimpa seseorang ataupun kaumnya, karena hanya di tangan-Nya segala penyesalan.
` Doa adalah pengantar penyelesaian itu. Dengan doa kesedihan akan berubah menjadi kepasrahan, keresahan akan berubah menjadi sebuah keyakinan yang penuh pengharapan, sedang ratapan akan berubah menjadi untaian tangis penyerahan atas kehendak-Nya [Majalah Tarbawi no. 134/Juni 2006].

Hadirin sidang dewan yang saya hormati,
Dalam menanggapi pidato Bupati Solok tentang RAPBD Perubahan, tidak ada hal prinsip yang dapat kami kritisi, namun ada beberapa aspirasi masyarakat yang perlu kami sampaikan sebagai wakil rakyat di lembaga legislative ini;

1. Lambatnya Proyek
Kita tahu bahwa RAPBD awal tahun ini sudah berjalan 8 bulan tapi banyak proyek yang belum dilaksanakan sehingga terkesan diperlambat yang mengakibatkan kerja berikutnya terburu-buru sehingga kualitasnya rendah. Nampaknya jauh-jauh hari kita membahas RAPBD kurang manfaatnya bagi masyarakat karena merekapun hanya menyaksikan proyek tersebut dilaksanakan akhir tahun ini atau tahun berikutnya, kami minta penjelasan saudara Bupati kenapa hal ini terjadi ?

2. Tiga Pilar Pembangunan
Pilar pembangunan di Kabupaten Solok diprioritaskan pada pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan yang kesemuanya untuk mensejahterakan rakyat. Pendidikan Anak Usia Dini seharusnya menjadi perhatian awal kita melalui Taman Kanak-kanak, Play Group atau Taman Pendidikan Anak. Untuk baiknya pendidikan bagi anak usia dini sebelumnya harus dibina dan dibekali para pendidik dengan ilmu tersebut sehingga pendidik dalam menjalankan tugas bukan hanya berorientasi pada penyelesaian program dan mengejar target tapi membentuk anak menjadi manusia yang sebenarnya manusia melalui penanaman motivasi dan penumbuhan sikap mental yang baik.

Disamping itupun pemerintah pusat akan menganggarkan dana lebih untuk pendidikan anak usia dini ini sehingga tercipta anak dengan kualitas dirinya sendiri. Kita selama ini hanya mengacu pada pendidikan yang mengarah pemikiran yang cendrung realistis dengan mengabaikan rasa dan sikap hidup, sehingga orientasi hiduppun selalu duniawi.

Sekaitan dengan hal tersebut kami menghimbau kepada masyarakat untuk membantu pemerintah daerah dalam mendidik anak usia dini melalui lembaga-lembaga yang didirikan yang motivasinya semata-mata mendidik ummat untuk kepentingan masa depan bangsa. Kami juga mengharapkan kepada pemerintah daerah agar memberikan anggaran yang layak kepada lembaga-lembaga yang mengelola PAUD [Pendidikan Anak Usia Dini].

Selain pendidikan maka kesehatan masyarakatpun seharusnya menjadi perhatian kita, memang ada wacana bahwa pendidikan dan pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat digratiskan sebagaimana beberapa daerah di luar Sumatera, tetapi hal itu sebenarnya opini yang menyesatkan sebab menjadikan masyarakat kita hidup malas dan apatis.
Wacana dan istilah pendidikan dan kesehatan gratis tidak usah dimunculkan walaupun prakteknya masyarakat menerima hal itu, tapi semuanya itu adalah subsidi yang diberikan oleh pemerintah daerah melalui peran serta masyarakat yang mampu kepada masyarakat yang tidak mampu.

3. Pelayanan Administrasi
Urusan masyarakat zaman modern ini semakin rapi dan tertata sehingga diharapkan melancarkan segala urusan, tetapi kenyataannya hal ini tergantung orang-orang yang berada di dalamnya. Pelayanan administrasi di Sekretariat Pemerintah Daerah sangat memprihatinkan, hal ini dialami oleh beberapa masyarakat yang mengeluhkan kejadian tersebut, dapatkah dipercaya ketika masyarakat menyampaikan sebuah surat kepada Bupati melalui Sekretariat Pemda sebulan berikutnya surat tersebut hilang, tidak tahu dimana rimbanya, hal itupun setelah ditanyakan berkali-kali. Lalu diusulkan agar dimasukkan surat kedua, setelah berkali-kali ditinjau jawaban terakhir persis sama dengan jawaban pertama, sang surat hilang.

Kita tidak mengerti manajemen apa yang dipakai oleh Pemerintah Daerah dalam melayani administrasi masyarakat sehingga tidak mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakatnya.

Dapat dibayangkan berapa kerugian masyarakat yang sudah berulang-ulang ke secretariat pemerintah daerah tapi tidak mendapatkan apa-apa selain kekecewaan, baik kerugian waktu, tenaga dan dana hanya untuk mengurus sebuah surat, apalagi mereka yang jauh dari pusat kota, itupun baru tiga dan empat kasus yang kami pantau, tentu yang tidak terpantau lebih banyak lagi, wallahu a’lam.

4. Aplikasi Perda Tentang Busana Muslimah
Salah satu kebanggaan Kabupaten Solok dari sekian Perda yang ada yaitu perda tentang Busana Muslimah, yang aplikasinya sudah kita lihat pada pegawai Pemerintah Daerah dan murid-murid SMP sampai SMA, tapi yang sangat memprihatinkan adalah mahasiswi Universitas Mahaputra Muhammad Yamin belum lagi mengaplikasikannya dengan baik sehingga janggal nampaknya di Kabupaten yang memberlakukan Perda tersebut tapi kaum intelektualnya pada perguruan tinggi belum melaksanakannya.

Kami menghimbau kepada saudara Bupati [Gusmal SE] yang beliau sekaligus Ketua Yayasan Gunung Talang yang menaungi Universitas tersebut untuk mewajibkan mahasiswinya mengenakan busana muslimah dan menindaklanjuti Perda, atas berkenannya saudara Bupati kami haturkan terima kasih.

Hadirin sidang dewan yang kami hormati,
Demikianlah pandangan umum fraksi yang dapat kami sampaikan dalam rangka menjadikan Kabupaten Solok lebih baik dari hari-hari berikutnya terutama dalam memposisikan diri sebagai pelayan masyarakat bukan malah minta dilayani oleh masyarakat, niat baik dari semua pihak untuk memperbaiki segala kekurangan adalah modal awal datangnya kebaikan itu.

Terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan.

Billahittaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Aro Suka, 6 September 2006

Drs. Mukhlis Denros

Tidak ada komentar:

Posting Komentar